Pages

Kamis, 13 Agustus 2015

Indonesia Yang Keasyikan Jadi Pasar Serial Drama Luar Negeri

Poster Binbir Gece alias Shehrazat, serial drama Turki yang tayang di ANTV


Beberapa waktu ini, kalau diperhatikan banyak serial drama Turki yang seliweran di layar kaca Indonesia.  Stasiun TV swasta Indonesia berbondong-bondong menyajikan serial drama yang diimportnya dari negeri asal kakek neneknya Mesut Özil ini.  Penonton Indonesia seakan-akan disuruh menyaksikan alur drama berseri ini secara maraton. Mulai dari serial yang menceritakan drama percintaan yang bikin para gadis teriak, sampai yang bikin emak-emak kesel bukan kepalang ngeliatin peran si antagonis yang kelewat kejam macam emak tiri.


Turki bukanlah negara pertama yang berhasil mencengkramkan kukunya di layar TV Indonesia.  Jauh sebelum Turki menggempur, tentunya semua tahu tentang keberhasilan Telenovela milik Amerika Latin semisal negeri Tango tempat lahir Maradona, Meksiko yang terkenal dengan sombreronya, juga Brazil.  Beberapa serial yang melejit di Indonesia antara lain Carita de Ángel, Marimar, Amigos, dan sederet telenovela lain.  Cerita a la Latino menguasai Indonesia di era tahun 90an sampai 2000an ini terbukti sukses, hingga kemudian sinetron Indonesia membuat cerita dengan alur yang sama.

Kemudian sinetron Indonesia mulai agak bisa move on dari rasa-rasa Latin.  Sinetron Indonesia mulai belajar membuat cerita yang rasanya agak ke-Indonesiaan,  Tapi belum jadi mekar dar berbuah, Indonesia malah menjadi korban dari Hallyu alias Korean Wave.  Korea yang mengekspansi negara kita tercinta ini dengan berbagai produknya dalam industri hiburan.  Demam Korea ini malah jauh lebih parah menjangkiti Indonesia karena tak hanya serial drama saja yang kemudian banyak ditemui di layar kaca Indonesia, musik mereka alias K-Pop juga kemudian banyak yang menjadi arah kiblat bagi musisi Indonesia.

Kita tentu tak asing dengan nama-nama macam Super Junior, SNSD, G-Dragon atau yang lain. Mungkin para K-Popers kalau ditanya akan menyebutkan jauh lebih banyak dari yang udah disebutin di atas kan?  Tapi berhubung kita sedang mengulik tentang ekspansi serial drama, kita tinggalkan dan lupakan dulu tentang beberapa artis Korea yang mau kamu sebutin.

Serial drama Korea yang kemudian menuai kesuksesan di layar kaca Indonesia antara lain : Boys Before Flower a.k.a BBF, Full House, atau Queen Seon Deok.  RCTI boleh dibilang yang pertama kali membawa virus demam ini dengan penayangan Endless Love : Autumn in My Heart.  Walaupun sebenarnya, drama itu tayang duluan di Indosiar.  Indonesia sepertinya hanya kebagian seri musim gugurnya, karena entah mengapa tak ditayangkan seri Winter, Summer dan Spring-nya. Nah, melihat kesuksesan RCTI, beberapa televisi latah ikut-ikutan memutarkan drama Korea yang berseri itu.

Korean Wave sebenarnya tak benar-benar hilang dari kehidupan masyarakat Indonesia sekarang walaupun kedatangan serangan dari India dan Turki.  Beberapa stasiun TV masih ada yang setia menampilkan drama dari negeri ginseng itu, meskipun jam tayangnya sudah tak seperti dulu yang diletakkan di primetime-nya emak-emak (siang - sore gitu).

Mahabharata menandai kesuksesan serial Bollywood di Indonesia

Setelah virus Korea tampaknya mereda, Indonesia langsung dibanjiri oleh India.  Boleh dibilang meskipun tak lama, serial India seperti Mahabharata terbukti sanggup meraih rating tinggi di tanah air.  Menyusul kesuksesan Mahabharata, ANTV sebagai pelopornya seperti terpancing untuk memanfaatkan virus India di Indonesia.  Lalu stasiun TV itu kembali membeli serial lain yang bau-baunya Bollywood, macam Mahadewa, Hatim, Jodha Akbar, Navya, terus nanti akan ada Savitri (yang iklannya udah seliweran kalau lagi nonton Masha and The Bear).

Melihat betapa suksesnya ANTV, TRANS7 dan MNCTV mencoba peruntungan mereka merebut para penggemar ketampanan pemuda India lewat Aladdin dan Ramayan.  Tapi nihil hasilnya.  Kedua judul itu pun kemudian lenyap entah kemana.  Trans7 tak putus asa setelah kegagalannya, mereka kemudian menayangkan Sharaswatichandra tapi hasilnya pun sama sekali tak seperti yang diharapkan.  Sharaswatichandra pun kemudian menyusul Aladdin hilang dari peredaran, setelah sebelumnya jam tayangnya dikutak-atik berharap ada kemajuan.

Kesuksesan serial India seakan-akan hanya dinikmati sendiri oleh ANTV.  Bahkan beberapa produksi in-house mereka pun menggunakan jasa para pemain India.  Sebut saja, di The New Eat Bulaga Indonesia atau Panah Asmara Arjuna yang menggunakan kekuatan wajah tampan Shaheer Sheikh dan kawan seperjuangannya.  Lalu Indonesia seakan menjadi pasar yang menyenangkan bagi artis Bollywood untuk mencari nafkah.  Hal ini membuat para artis Indonesia merasa tergusur tentunya. Karena mereka tak hanya menguasai serial tapi juga acara live. Bahkan di ulang tahun ANTV, bintang utama yang dijadikan daya tarik adalah artis India.

King Suleiman, sempat menuai kontroversi di Indonesia.

ANTV kemudian kembali memberikan gebrakan baru dengan menyuguhkan tontonan baru yang diimpor dari Turki. TV swasta itu menayangkan King Suleiman yang menceritakan tentang kisah Raja Ottoman yang terkenal, Suleiman I atau yang oleh dunia Barat dikenal sebagai Suleiman The Magnificient.  Serial ini kemudian malah menuai kecaman dari berbagai pihak.  KPI bahkan katanya sempat memberi teguran pada ANTV atas desakan MUI.  Bagaimana tidak, serial ini bukannya menceritakan kehebatan Raja Sulaiman dalam memimpin kerajaannya dan memperluas kekuasaannya sampai ke Afrika, King Suleiman malah menceritakan kehidupan percintaan yang sama sekali tak sesuai dengan fakta sejarah.  Sinetron ini malah mencemarkan nama baik Raja Sulaiman. (Selengkapnya baca di http://www.arrahmah.com/news/2014/12/25/ini-10-dosa-film-king-suleiman-yang-menuai-protes.html)

Mendapat teguran dan kecaman dari berbagai pihak, tak membuat ANTV berhenti menyiarkannya. Bagaimana bisa berhenti, kalau sudah mendapat rating dan share yang bagus? ANTV hanya mengubah judulnya menjadi Abad Kejayaan, berharap bisa meredam kontroversi di masyarakat.

Melihat kegundahan hati yang menerpa ANTV, SCTV kemudian mengambil kesempatan untuk merebut hati pencinta drama Turki dengan kisah seorang anak kecil yang terpisah dari ibu dan ayahnya lewat Elif terhitung mulai Senin, 30 Maret lalu.  Sukses dengan Elif, SCTV kepincut untuk kembali menayangkan drama Turki lain, yaitu Zehra "The Little Bride".  Namun untuk alasan yang tidak jelas, tayangan Zehra kemudian dihilangkan.  Share dan rating dijadikan alasan lenyapnya Zahra dari peredaran dan kemudian digantikan oleh sinetron 3 SMS. Padahal kalau diperhatikan, sedikit demi sedikit posisi Zahra mulai membaik.  Dihilangkannya Zahra membuat para penggemar Turkish kecewa.

Selain hilangnya Zahra, SCTV juga bertanggung jawab atas kesalnya netizen yang banyak mengecam cara SCTV menayangkan Elif.  Elif yang tayang dari pukul setengah satu siang sampai jam setengah tiga, satu setengah jam durasi digunakan untuk memutar kembali episode sebelumnya.  Tapi di episode terakhir Elif, SCTV seolah meminta maaf dengan memutar episode pamungkas tanpa mengutak-atik durasi penayangannya.

Menyusul SCTV dan ANTV, RCTI dan TransTV ikut latah menayangkan drama Turki dengan Huzur Sokagi yang namanya jadi bagus banget 'Gang Damai' terus Trans TV menayangkan Cinta di Musim Cherry yang nama aslinya Kiraz Mevsimi.  Tak mau kehilangan pengaruhnya yang pertama kali menayangkan serial Turki pun kembali menyuguhkan serial lain untuk menemani Abad Kejayaan yang hampir habis. Mengambil cerita tentang perjuangan dan kisah cinta seorang ibu dengan anak yang mengidap leukimia dan cintanya dengan bos besarnya, Binbir Gece alias Shehrazat bisa dibilang mulai merebut perhatian penikmat drama Indonesia.


Terus kenapa?


Heading yang menyebalkan.
Bayangkan kalau ini terus-menerus terjadi pada panggung layar kaca di Indonesia! Ini akan mematikan industri hiburan Indonesia.  Membuat para sineas Indonesia kehilangan jati diri ke-Indonesiaannya.

Atau yang lebih parah lagi, pemuda Indonesia kehilangan rasa nasionalismenya dengan gempuran budaya asing.  Tentu setiap invasi drama serial membawa kultur budayanya masing-masing.  Maka lenyapnya identitas bangsa sudah terlihat di depan mata.  Erosi nilai-nilai budaya pun akan terjadi dan takkan terelakkan.

Inikah yang kita mau?

Tentu tidak.

Well, sebagai penutup penulis hanya mau bilang.  Kalau pasar Indonesia terus diserang demam Korea-lah, demam India-lah, demam Turki, atau demam apalah, itu artinya kita sudah sakit-sakitan kan?

3 komentar:

  1. tapi memang serial india dan turki lebih baik dari senetron indo

    BalasHapus
  2. sudah jarang nonton tv, kecuali mantau IHSG, tapi bener juga jgn sampai peralihan budaya

    BalasHapus