Bagi kalian yang selalu menyimak kelanjutan kisah drama politik di Indonesia, pasti tahu bahwa beberapa waktu lalu, publik dibuat heboh dengan keputusan Reshuffle Kabinet Kerja yang diambil oleh presiden Joko Widodo. Reshuffle Kabinet adalah hal yang biasa dalam dunia perpolitikan. Langkah ini diambil setelah seluruh jajaran kementrian dievaluasi dan hasilnya ditemukan beberapa kementrian yang bekerja di bawah ekspektasi. Reshuffle kabinet kemarin mengganti lima menteri dan sekretaris kabinet-nya.
Tapi kita tak akan mendiskusikan soal reshuffle itu karena sejujurnya penulis bukanlah orang yang tertarik dengan atmosfer politik Indonesia. Satu paragraf di atas hanyalah sebagai pengantar topik yang akan dibahas di sini. Pasalnya, satu dari lima menteri yang diganti adalah Rahmat Gobel yang tadinya menjabat sebagai Menteri Perdagangan.
Diberhentikannya Pak Gobel (sebut saja begitu), ditengarai karena keputusannya yang dianggap konyol dengan melarang impor sapi. Mari kita maklumi keputusannya tersebut. Mungkin Beliau berharap dengan dihentikannya impor sapi dari luar negeri, maka produk daging sapi dalam negeri akan mampu memonopoli pasar. Tapi karena perhitungannya yang menurut beberapa sumber dikatakan belum cermat, tidak memperhatikan belum mampunya produk dalam negeri memenuhi kebutuhan pasar. Atau mungkin sebenarnya dia lelah. Namun keputusannya itu membuat harga daging sapi meroket sampai ke bulan akibat permintaan dan ketersediaan komoditi yang tak mencukupi. Akibatnya, daging sapi tiba-tiba jadi susah dicari karena para pedagang memutuskan untuk mogok berdagang, daripada harus rugi kata mereka.
Buntut dari segala kemelut yang dialami Pak Gobel adalah dipecatnya beliau secara hormat dari kementrian perdagangan. Walaupun sebenarnya Pak Gobel ini memberikan sedikit angin segar bagi produk-produk tanah air. Beliau hanya berusaha mencari inovasi baru untuk memajukan Indonesia. Tapi sekali lagi, artikel ini bukan dibuat untuk membela eks-menteri Perdagangan itu.
Lalu apa hubungannya antara Pak Gobel dan judul posting ini?
Sebenarnya tak ada. Saya hanya berusaha membuat benang merah antara menu pembuka dan sajian utama. Tapi kalau memang pembaca tak juga bisa menemukan benang merahnya, benang warna apa saja bisa Anda temukan di sini silahkan dicat dengan warna merah.
Namun kalau diulik lagi, Pak Gobel (lagi-lagi Pak Gobel) atau siapapun menteri Perdagangannya pasti akan dihadapkan oleh kontroversi hati dalam masalah impor bahan pangan. Seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya, tentu tak ada satu orang pun di Indonesia ini yang mau tanah airnya dijajah oleh komoditi asing. Tapi juga tak ada yang bisa memungkiri bahwa bukan hal yang mudah lepas dari jerat impor. Pasalnya komoditas pangan Indonesia tak juga kunjung surplus. Pemerintah juga harus mengambil keputusan impor untuk menstabilkan harga bahan pangan agar seluruh lapisan masyarakat dapat menjangkaunya.
Apa saja yang diimpor oleh Indonesia?
Selain masih gila-gilaan impor migas, Indonesia juga masih ketagihan jadi penikmat barang luar untuk produk bahan pangan. Bukan hanya satu atau dua jenis saja bahan pangan yang tak dapat dipenuhi dengan produksi dalam negeri, melainkan puluhan. Dikutip dari liputan6dotcom ada puluhan bahan kebutuhan pokok yang diimpor oleh Republik kita ini. Besarnya impor pun bukan hanya jutaan dollar, tapi milyaran. Alamak!
Berikut adalah daftar 28 kebutuhan pokok yang masih diimpor (sumber liputan 6 dot com)
Berikut adalah daftar 28 kebutuhan pokok yang masih diimpor (sumber liputan 6 dot com)
No
|
Jenis
Kebutuhan Pokok
|
Nilai
Impor
|
Negara
Asal
|
1
|
Beras
|
US$ 111,7 juta
|
Vietnam,
Thailand, Pakistan, India, Amerika Serikat
|
2
|
Jagung
|
US$ 339,12 juta
|
India, Brazil,
Argentina, Paraguay, Amerika Serikat
|
3
|
Kedelai
|
US$ 425,8 juta
|
Amerika
Serikat, Malaysia, Etiopia, Argentina, Ukraina
|
4
|
Biji gandum dan meslin
|
US$ 1,1 miliar
|
Australia,
Kanada, India, Amerika Serikat, Singapura
|
5
|
Tepung terigu
|
US$ 34,11 juta
|
Srilangka,
India, Ukraina, Turki, Jepang
|
6
|
Gula pasir
|
US$ 18,15 juta
|
Thailand,
Malaysia, Australia, Selandia Baru, Korsel
|
7
|
Gula tebu
|
US$ 635,14 juta
|
Thailand,
Brasil dan Australia
|
8
|
Daging sapi
|
US$ 65,19 juta
|
Australia,
Selandia Baru, Amerika Serikat
|
9
|
Daging ayam
|
US$ 30,26 ribu
|
Malaysia dan Belgia
|
10
|
Garam
|
US$ 37,54 juta
|
Australia,
India, Jerman, Selandia Baru, Singapura
|
11
|
Mentega
|
US$ 34,9 juta
|
Selandia Baru,
Belgia, Australia, Perancis, Belanda
|
12
|
Minyak goreng
|
US$ 30,48 juta
|
India,
Malaysia, Vietnam, Thailand, Singapura
|
13
|
Susu
|
US$ 293,9 juta
|
Selandia Baru, USA, Australia, Belgia, Filipina
|
14
|
Bawang merah
|
US$ 22,9 juta
|
Vietnam,
Thailand, India, Filipina, China
|
15
|
Bawang putih
|
US$ 103,4 juta
|
China dan India
|
16
|
Kelapa
|
US$ 345,42 ribu
|
Thailand,
Singapura, Filipina dan Vietnam
|
17
|
Minyak sawit
|
US$ 1,74 juta
|
Malaysia, Papua
Nugini dan Virgin Island
|
18
|
Lada
|
US$ 1,9 juta
|
Vietnam,
Malaysia, Belanda, Singapura
|
19
|
Teh
|
US$ 13,4 juta
|
Vietnam, India,
Kenya, Iran, Srilangka
|
20
|
Kopi
|
US$ 27,5 juta
|
Vietnam,
Brasil, Italia, Amerika Serikat dan lainnya
|
21
|
Cengkeh
|
US$ 1,6 juta
|
Madagaskar,
Mauritius dan Singapura
|
22
|
Kakao
|
US$ 29,9 juta
|
Ghana, Pantai
Gading, Papua Nugini, Kamerun, Malaysia
|
23
|
Cabai kering
|
USS 8,4 juta
|
India, China,
Thailand, Spanyol, Korea Selatan
|
24
|
Cabai
|
USS 983,4 ribu
|
Thailand dan China
|
25
|
Tembakau
|
US$ 222,14 juta
|
China, Turki,
Brasil, Filipina, Amerika Serikat
|
26
|
Ubi kayu
|
38,3 ribu ton
|
Thailand
|
27
|
Kentang
|
US$ 13,26 juta
|
Kanada,
Australia, China dan Inggris
|
28
|
Sapi
|
US$ 97,9 juta
|
Australia
|
Pahit dan Manis-nya Impor
Bagai dua sisi uang koin, segala hal yang ada di dalam hidup ini selalu ada nilai positif dan negatifnya. Setiap langkah yang diambil oleh kita selalu akan memberi dampak baik dan buruk bagi kehidupan kita selanjutnya. Pun halnya dengan masalah impor ini. Sekali lagi, mari kita berbaik sangka pada pemerintah. Mereka yang berdasi dan berjas rapi duduk sebagai wakil rakyat tentu selalu menimbang baik dan buruk keputusan yang diambilnya. Mereka tentu akan mengambil langkah jitu untuk memperkecil dampak buruk dari keputusan impor ini.
Berikut akan dijabarkan sedikit mengenai hal buruk dan baik mengenai impor ini.
(+) Bea masuk
Dikutip dari Wikipedia, bea masuk adalah pungutan negara berdasarkan UU yang dikenakan terhadap barang yang memasuki daerah pabean. Itu artinya kegiatan impor dapat memberikan pemasukan terhadap kas negara atas bea masuk ini.
(+) Pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat
Data dari sebuah sumber menyebutkan bahwa jumlah penduduk Indonesia di tahun 2015 ini mencapai 252.370.792 alias dua ratus lima puluh dua juta tiga ratus tujuh puluh ribu tujuh ratus sembilan puluh dua. Jumlah yang besar bukan? Bisa dibayangkan jika masing-masing penduduk membutuhkan 1/4 liter beras sehari, berapa banyak beras yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan itu? Itu baru sekadar beras, belum terigu, daging, dan lainnya. Untuk mengatasi kekurangan itu maka pemerintah mengambil langkah untuk mendatangkan barang konsumsi dari luar Indonesia.
(+) Terjalin kerja sama Internasional
Kehidupan sosial Indonesia di publik dunia memang ada hubungannya erat dengan kegiatan impor yang dilakukan Indonesia. Ini terlihat ketika Indonesia gabung WTO dan APEC pemerintah jadi hobi impor bahan pangan.
(+) Harga yang lebih murah
Dengan impor, Indonesia bisa mendapatkan barang kebutuhan dengan harga yang lebih murah. Bahkan mungkin lebih murah dibanding produksi sendiri. Hal ini bisa disebabkan karena mahalnya ongkos transportasi dan mahalnya biaya produksi di Indonesia dibandingkan negara lain.
(+) Teknologi modern
Seiring berkembangnya zaman, tentu kita tak bisa terus-terusan bergantung dengan teknologi usang untuk mendukung kegiatan. Oleh karenanya dengan jalan impor, kita bisa mendapatkan alat-alat yang telah menggunakan teknologi modern dari luar Indonesia. Teknologi ini bisa kita serap dan dikembangkan sendiri nantinya.
Lalu, apa saja dampak negatif kegiatan belanjanya Indonesia dari negeri orang?
Bahan makanan yang bisa didapatkan dengan harga yang lebih murah di luar negeri membuat posisi Pak Tani dan Bu Tani terancam. Mereka jadi terhimpit karena gempuran bahan pangan dari luar negeri. Padahal mereka juga tak menginginkan bahan pangan lokal lebih mahal dari lapak negeri orang. Tapi mereka juga tak mampu berbuat banyak. Jelas para produsen seperti produsen mi instan, tahu, tempe akan memilih produk impor guna menekan biaya produksi mereka. Kalau begini terus keadaannya, petani nantinya memilih untuk menjual tanahnya dan beralih menjadi buruh. Lalu apa jadinya Indonesia tanpa petani? Pantaskah kita masih disebut negara agraris?
(-) Ketergantungan
Bayangkan jika suatu saat negara-negara yang sekarang jadi pemasok bahan pangan untuk Indonesia tiba-tiba menghentikan kegiatan ekspor mereka? Semisal karena negara mereka mengalami bencana atau Indonesia terlibat selisih paham dengan mereka yang menyebabkan Indonesia dikucilkan? Maka jika itu terjadi Indonesia akan kelabakan untuk memenuhi kebutuhannya. Seharusnya kita harus belajar untuk mengurangi ketergantungan pada negara lain. Hal itu juga untuk menghindari negara lain untuk ikut campur dalam urusan kita.
(-) Konsumerisme
Kalau negaranya saja tidak belajar untuk memproduksi dan lebih suka langsung membeli, bagaimana bisa rakyatnya terbiasa untuk membuat?
Lalu apa yang harus dilakukan?
Sebuah artikel yang baik akan selalu memberikan masukan untuk setiap problematika yang dibahasnya. Maka penulis juga berusaha melakukan tanggung jawab itu. Apa yang dikatakan di artikel ini seluruhnya hanyalah suara penulis. Jadi masukan yang diberikan di sini hanya sekadar saran. Kita tahu pemerintah sudah pintar dan tahu apa yang harus dilakukan. Lagipula kita semua tahu pepatah It's easier said than done itu benar 'kan?
Pemerintah harus mulai mendorong kesejahteraan para petani. Misal dengan memberikan bantuan untuk pengairan, pupuk dan hal lain. Dengan begitu, petani akan bisa menekan biaya produksinya sehingga nantinya harga jual dari petani pun akan lebih murah. Hal ini tentunya diharapkan bisa menaikkan produk bahan pangan lokal. Setelah itu baru pemerintah bisa membatasi jumlah kuota impor untuk membantu bahan pangan lokal. Sehingga terhindarlah drama seperti yang dialami Bapak Gobel tadi.


0 komentar:
Posting Komentar